Manusia Kabut

Meski mulut bocah itu membisu, namun dari matanya kata-kata terus beluncuran. Seperti kabut lembah, diam-diam membisiku tentang cericit burung Jelagah.

“Kenapa kau Bandu?” tanyaku padanya dengan suara selembut mungkin.

Namun ia tetap membisu, ia enggan bercerita padaku. Entah apa yang telah terjadi padanya. Aku sempat melihat luka di punggungnya, semacam luka memar.

“Bandu kau tidak mau bercerita padaku?” kataku lagi. Namun lagi-lagi bocah itu membisu. Ia tatap rerimbun cengkeh di antara petani yang sedang memetik daun-daunnya.

Aku mencoba menghiburnya dengan menawarkannya beberapa keping uang receh, namun ia tetap menolak. Tidak seperti biasanya, Bandu terlihat aneh sedari tadi. Padahal aku tahu betul Bandu adalah bocah yang amat ceria. Ia juga termasuk anak yang cerdas dan mudah menangkap pelajaran tidak seperti teman-temannya.

“Kau sudah tidak percaya lagi padaku?” ucapku mencoba menyakinkan diriku bahwa dia masih mendengarkan semua perkataanku.

Ia menatapku kemudian, dan mata itu. Ah, aku tak sanggup menatap matanya yang kini mulai mengalir dua anak sungai. Aku memeluknya erat. “Kenapa kau? Kenapa harus menangis. Aku akan selalu di sampingmu, percayalah,” kembali kata-kataku meluncur begitu saja.

Kalau sudah begini, aku tak membutuhkan waktu lama untuk mendengar cerita darinya. Karena setelah itu, secara polos ia bercerita tentang kemarahan bapaknya pada dirinya karena lupa memberi makan pada Jino, ayam jago milik bapaknya sehingga ayam itu sakit.

“Bandu bilang, Bandu tak sempat karena bandu mengikuti pelajaran bersama Mas.” suaranya terdengar di antara sesengukan tangisnya yang masih tertahan. “Bandu tidak boleh ikut pelajaran Mas lagi, Bandu diancam akan dihukum kalau Bandu ikut pelajaran Mas,” katanya masih dengan tangisnya yang tertahan.

Aku menatapnya lekat. Kabut turun dan perlahan memeluk kami. Udara menjadi begitu dingin dan aku berusaha menekan grahamku untuk menahan rasa yang begitu menusuk itu.

“Buat apa kau belajar membaca kalau toh kau akan kembali pada lembah, pada cengkeh jua!” Bandu kembali meneruskan ceritanya sembari menirukan kata-kata yang diluncurkan bapaknya. Isaknya kini mulai bisa ia kendalikan.

Aku menyuruh membuka pakaiannya, aku ingin melihat lebih jelas memar yang ada di punggunnya. Aku terharu ketika bebera memar bergaris horizontal itu membelah sepanjang tubuhnya. “Dengan apa kau dipukul?” tanyaku memberi perhatian.

“Pecut,” jawabnya pendek.

Aku berusaha mengobatinya, kebetulan aku membawa beberapa peralatan obat memar. Sebetulnya kejadian ini tidak sekali dua kali terjadi dalam pengembaraanku membantu rakyat pedalaman. Minimnya pengetahuan orang tua mengenai pentingnya membaca menjadi pemicu utama dalam pemberatasan buta huruf di kawasan pedesaan.

Kabut lembah turun pelan, dingin kian menggigit. Beberapa petani masih memetik cengkeh. Ada yang tampak serius adapula yang tampak terkekeh. Mungkin menertawakan nasibnya yang selalu di bawah.

“Kenapa hanya gara-gara ayam kau dipecut sampai seperti ini?”

“Ayam Bapak bukan ayam biasa.”

“Maksudnya?” tanyaku heran.

“Jino pernah ditawar dua juta. Karena Jino selalu memenangkan pertandingan sabung ayam. Bapak selalu bangga pada ayamnya itu. Ia lebih membanggakan ayamnya ketimbang anaknya…,” ada rona kesedihan dari tiap kata yang ia ucapkan padaku. Aku menatapnya haru.

Kasihan bocah kecil ini, pikirku dalam hati. Potensi yang ada pada dirinya cukup bagus, bahkan aku sangat bangga padanya. Peristiwa peremehan pada dirinya tidak terjadi sekali dua kali, sebetulnya aku juga sudah tahu bahwa Bandu termasuk anak yang kurang perhatian. Bandu sendiri pernah cerita padaku. Ia bercerita pada bapaknya tentang hadiah yang aku berikan kepadanya karena dia orang yang pertama bisa membaca tercepat. Bukan kebanggaan atau kebahagiaan yang diterima dirinya, melainkan sebuah peremehan akan harkat untuk mengembangkan potensi diri. Aku merasa perih karena aku pikir kebetulan aku dilahirkan sebagai anak orang kaya yang mumpuni untuk mengecap pendidikan. Bila aku dilahirkan sebagai Bandu, mungkin keadaanku sama dengannya. Akan bodoh dan tetap bodoh selamanya…

Terkadang orang berbeda hanya karena ia tidak dilahirkan sebagai orang merdeka. Mereka dilahirkan dan dipenjara dengan belenggu-belenggu ekonomi serta tetek-bengek budaya yang kemudian menistakannya untuk berkembang.

Aku pikir kehadiranku di sini akan mengubah segalanya. Dan itulah seharusnya yang dilakukan pemerintah dengan segera. Desa juga butuh pendidikan, buat apa mengembangkan pendidikan kota sementara para pelajarnya selalu sibuk dengan tauran, pacaran bahkan narkoba. Kita butuh bibit unggul, bukan pelacur!

Aku menatap wajah orang tua Bandu. Seperti kebanyakan orang desa, wajahnya legam karena matahari. Ia tampak sibuk dengan ayam yang kini sedang dipegangnya. Sepertinya ia tidak mengharapkan kehadiranku. Ia mengacuhkanku begitu saja. Aku bingung, aku harus berbuat apa? Untunglah ada seorang. perempuan yang segera mempersilahkanku untuk duduk di salah satu kursi tamu, kuyakin itu adalah ibu Bandu. Bandu segera berhambur ke dalam  dan kembali dengan secangkir kopi yang mengepul.

Rumah yang tidak banyak ventilasi untuk mengurangi dinginnya malam, ujarku dalam hati setelah melihat keadaan rumah itu. Ayah Bandu akhirnya meletakan ayamnya itu ke dalam kandang. Aku terkesima dengan perawatan yang menyeluruh itu. Namun, apalah gunanya itu semua bila anak sendiri dicampakannya.

“Kau ingin memintaku untuk menyekolahkan anakku? Tidak mungkin kuizinkan!” ujarnya di hadapanku ketika ia mulai duduk dan sibuk dengan kepul asap tembakau cengkeh di mulutnya.

Wajah Bandu tampak begitu kecewa dengan reaksi ayahnya itu.

“Apa perlunya sekolah itu? Kalaupun ia bisa baca, uang itu tidak akan jalan begitu saja masuk ke rumah ini,” lanjut ayahnya. “Sekarang ini, kita hanya butuh tenaga. Coba pikir, kebun teh itu tidak akan sendirinya tumbuh kalau bukan dengan tenaga kita menanamnya.” Tetapan orang itu luas ke depan. Seakan membaca kebun teh yang membentang sepanjang penglihatan.

“Apa untungnya sekolah?” lagi-lagi dengan nada sinis orang tua itu berujar.

Tak sedikitpun aku mengelak pertanyaan itu. Aku membenarkan semuanya, namun apa salahnya bila mereka tidak hanya tahu kebun teh itu harus segera dipetik kalau sudah putik? Namun tak perlu pertanyaan itu kuungkapkan padanya. Biarlah kabut itu yang bercerita kelak padanya…

***

“Teh sekarang berkembang pesat, investor sudah mulai menandatangani kontrak. Khusunya Jepang, mereka berani bayar mahal!” seluler itu membisikiku suara kabut, ya suara yang amat kukenal, Bandu. Tampaknya dialah yang saat ini menjadi perwakilan dari para petani teh di kampungnya.

“Bulan depan, kami akan mengirim ke Jepang, mereka lebih menyukai teh Indonesia katanya,” ujarnya lagi. Perkembangannya cukup cepat, ia kubantu untuk terus bersekolah hingga akhirnya ia mendapat gelar sarjana pertanian di kota ternama. Semula tak seorangpun keluarganya yang setuju. Namun, setelah aku bersusah payah menyakinkan bahwa mereka tidak akan keluar biaya sedikitpun, terutama ayah bandu. Namun, mereka akhirnya dengan berat hati menyerahkan anaknya.

Terkadang memang kita harus melakukan pengorbanan untuk satu perubahan. Bukankah Indonesia merdeka setelah ratusan orang meninggal dunia karenanya? Tentu saja, itulah yang aku yakini. Dan tampaknya Bandu sadar akan hal itu. Ia belajar dengan amat giat sehingga IP terakhirnya mendapatkan predikat Comlude. Cukup sukses untuk seorang manusia kabut sepertinya.

Kini, ia telah menunjukan bahwa kabut tak selamanya ada di lembah, namun ia juga bisa menjadi awan di langit dan mungkin pula jadi purnama.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *