Jakarta (16/01) Perayaan Hari Puisi untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sekaligus yang pertama diselenggarakan pada tahun ini. perayaan hari puisi memang dapat berlangsung kapan pun, hal ini terlihat beberapa komunitas sastra atau lembaga yang menyelenggarakan hari puisi tahun 2018 yang berjalan sejak bulan Maret—Desember.
Dalam sambutannya, ketua pelaksana kegiatan ini, Syarif Hidayatullah, M.Pd. menyebut bahwa kegiatan ini merupakan upaya memartabatkan puisi di tengah minimnya karya sastra ini diproduksi dan diapresiasi pada generasi milenial saat ini. Sejalan dengan Syarif, Dr. Prima Gusti Yanti, M.Hum., sebagai ketua program studi, menyebut bahwa hadirnya perayaan hari puisi ini sebagai momentum untuk menggairahkan puisi di tengah generasi milenial.

Kegiatan ini dihadiri oleh para mahasiswa dan dosen UHAMKA. Mereka memadati laboratorium seni dan musik UHAMKA.
Pameran Manuskrip Kumpulan Puisi
Dalam kegiatan ini, ada 13 manuskrip kumpulan puisi yang dipamerkan. Manuskrip tersebut merupakan kumpulan puisi dan prosa yang ditulis oleh para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Manuskrip tersebut disajikan dengan beragam bentuk, ada yang menyajikan dalam bentuk buku, sehingga tampak buku tersebut seperti buku yang telah diterbitkan. Namun, ada pula yang mengklipingnya dengan tata letak yang sederhana. Meskipun demikian, kedua bentuk ini sama-sama diminati oleh para pengunjung yang hadir dalam perayaan hari puisi.

Peluncuran Tiga Kumpulan Puisi
Kegiatan ini juga diisi dengan peluncuran buku kumpulan puisi karya mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Buku tersebut, yaitu Jejak Pena Beraksara karya Rida Tania Noviani, Puisi Zaman Now karya Muhammad Rizki Nur Rachman, dan Insan Berlentera Kapas karya Ahmad Nur Fauzi dan Rizki Nur Rachman. Untuk mengapresiasi prestasi mahasiswa, program studi memberikan sertifikat penghargaan dan uang pembinaan.
“Saya senang dan bangga mendapatkan ini,” ujar Rida Tania Novian atau yang akrab dipanggil Via. Via juga menuturkan bahwa dalam tahun ini akan segera menerbitkan buku kumpulan puisi terbaru.

Selepas peluncuran tiga buku kumpulan puisi tersebut, para penulis tersebut kemudian menyampaikan proses kreatif berpuisi dalam diskusi yang dipandu oleh Achmad Abimubarok, M.Pd. Dalam diskusi itu, Rizki menyebut ide-ide puisi yang ditulisnya berdasarkan patah hati sementara Via mengaku lebih mengangkat fenomena sosial di tengah masyarakat.
Perayaan semakin meriah saat para dosen dan mahasiswa membacakan puisi. Silih berganti dosen dan mahasiswa tampil membaca karya Via, Rizki, dan Fauzi. Pada penutup acara ini, komunitas vanderwijck tampil dengan membawakan puisi dalam alunan lagu yang indah.